TEORI PEMBELAJARAN KOGNITIF DAN TEORI DUAL CODING MULTIMEDIA TERHADAP PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Media
pembelajaran adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk merancangkan sesuatu
yang bisa memberikan informasi secara luas untuk digunakan dalam metode
pembelajaran apapun untuk menunjang keafektifan siswa. Secara teori dalam suatu
pembelajaran multimedia Pada teori kognitif (The Cognitive Theory of Multimedia
Learning) terdapat beberapa prinsip yang bisa dijadikan pedoman oleh para
perancang multimedia dan e-learning saat membuat pembelajaran atau presentasi
yang informasinya terdiri dari teks, grafik (gambar), video dan audio untuk
mengoptimalisasikan pembelajaran. Tiap-tiap prinsip telah dilakukan penelitian
(research) dengan menggunakan berbagai macam kondisi pembelejaran
multimedia untuk menentukan hasil mana yang terbaik untuk pembelajaran para
siswa. (Clark & Mayer, 2011). Teori ini mengusulkan tiga asumsi utama
ketika harus belajar dengan multimedia yang melandaskan tentang pembelajaran
multimedia dan bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan
suatu multimedia pembelajaran matematika sebagai berikut :
Didalam
teori Pembelajaran multimedia yang dikembangkan oleh Richard Mayer, mengenai
pembelajaran multimedia harus mempumyai suatu prinsip dalam pembuatan media
pembelajaran agar materi yang akan digunakan lebih efektif dan kondusif seperti
gabungan kata-kata (words) dan gambar lebih kondusif digunakan untuk
pembelajaran, jika dibandingkan dengan yang terdiri atas teks ataupun gambar
saja bukanlah cara yang efektif untuk mencapai pembelajaran multimedia
Hasil studi juga menunjukkan bahwasanya
terdapat dua saluran (channel) yang digunakan untuk melakukan
pemrosesan terhadap informasi, yaitu auditori dan visual. Saluran auditori
melakukan pemrosesan terhadap suara yang kita dengar, dan saluran visual
melakukan pemrosesan terhadap apapun yang kita lihat. Dengan mengkombinasikan
kedua proses ini, hasil studi menunjukkan bahwasanya para peserta didik bisa
melakukan pembelajaran dengan lebih mendalam dan hasilnya tersimpan dalam
memori para peserta didik dengan waktu yang lebih lama. Hasil studi tersebut
juga menunjukkan, visual ataupun teks yang sangat banyak bisa membebani peserta
didik. Jadi antar visual dan teks harus diseimbangkan dan saling berhubungan
antara satu dengan yang lain, sehingga tidak membingungkan proses pembelajaran
para peserta didik. Tujuannya adalah untuk media pembelajaran dalam
menganalisis bagaimana pikiran manusia bekerja. Inilah dasar teori pembelajaran
kognitif Mayer.
Teori ini mengusulkan tiga asumsi utama
ketika harus belajar dengan multimedia yaitu audio (suara), visual (gambar),
dan kinetik (gerak) sebagai berikut :
1. Audio
(suara)
Media berupa audio dalam proses pembelajaran merupakan suatu bahan atau
menganhantarkan pesan dalam bentuk auditif (pita suara) melalui pendengaran
yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa, sehingga
terjadi proses belajar mengajar. Prinsip ini menggunakan gaya yang bersifat
konversasional (percakapan) dan virtual coaches (Clark & Mayer,
2011). Prinsip ini melibatkan peserta didik dengan cara menyajikan konten
dengan nada percakapan dalam rangka untuk meningkatkan pembelajaran. Clark dan
Mayer (2011) juga menemukan bahwasanya penggunakan agen pedagogikal bisa
membantu peserta didik untuk fokus pada pembelajaran yang diberikan.
2. Visual
(Gambar)
Media berupa visual dalam proses pembelajaran merupakan suatu bahan ajar
yang memberikan suatu bentuk gambar, graphic, tulisan yang dapat dipahami oleh
siswa. Grafik (graphic) bisa berupa gambar statis, animasi ataupun
video. Adapun tipe-tipe grafik, antara lain:
- Decorative graphics, grafik jenis ini digunakan hanya untuk dekorasi saja, tidak meningkatkan kualitas dari pesan yang ingin disampaikan pada pembelajaran dan terkadang membingungkan peserta didik.
- Representational graphics, gambaran yang berupa foto yang di dalamnya terdapat caption (teks) yang menjelaskan tentang foto tersebut.
Contohnya pada gambar di bawah ini :
Maka
suatu pembelajaran visual yang diperlukan suatu keterangan pada gambar untuk
menjelaskan bagian – bagian agar siswa bisa memahami konsep dari suatu materi
yang diajarkan.
Berbagai macam studi telah dilakukan untuk mendukung prinsip contiguity
ini. Moreno dan Mayer (1999) menemukan bahwasanya para peserta didik bisa
melakukan pembelajaran dengan baik ketika teks dan animasi ditempatkan saling
dekat antara satu dengan yang lain dibandingkan dengan yang berjarak jauh
antara satu dengan yang lain. Mereka juga melaporkan pada hasil publikasi yang
sama, narasi diberikan secara simultan dengan animasi untuk para peserta didik
dan secara temporal dipisahkan dengan animasi. Peserta didik dengan kondisi
narasi dan animasi ditampilkan secara simultan melakukan pembelajaran dengan
lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi dimana narasi dan animasi
dipisahkan antar satu dengan yang lain.
Telah banyak studi yang dilakukan dan
membuktikan bahwasanya teori ini valid dan terus berkembang saat ini. Selama
lebih dari satu dekade, Mayer telah meneliti bagaimana peserta didik melakukan
proses pembelajaran dan mencari cara terbaik untuk mengetahui pembelajaran
melalui media visual. Dia melakukan sebelas penelitian untuk membandingkan
peserta didik yang mana dapat dilakukan proses pembelajaran dengan baik,
dibandingkan antara yang menggunakan animasi dan narasi atau yang menggunakan
teks dan ilustrasi dengan yang menggunakan teks saja. Seluruh penelitiannya
menyatakan para peserta didik yang belajar dengan grafik atau gambar dan teks
bisa menjawab pertanyaan mengenai proses lebih baik dibandingkan dengan yang
hanya belajar dengan teks saja.
3. Kinestetik
(Gerak)
Media berupa kinestetik merupakan suatu alat bahan ajar yang dapat
diperagakan dengan cara membuat alat peraga agar siswa dapat lebih memahami
sebuah informasi secara jelas sesuai dengan kegunaan sehingga pembelajaran yang
digunakan sangat menarik.
Briggs dalam Noehi Nasution (2004)
berpendapat bahwa harus ada sesuatu untuk mengkomunikasikan materi (Pesan
Kurikuler) supaya terjadi proses belajar. Karena itu dia mendefinisikan
alat peraga sebagai alat peraga sebagai ; “Wahana Fisik Yang Mengandung
Materi Pembelajaran”.
Menurut Estiningsih
(1994) alat peraga merupakan media pembelajaran yang mengandung atau membawakan
ciri-ciri dari konsep yang dipelajari. Alat peraga adalah suatu benda asli dan
benda tiruan yang digunakan dalam proses belajar mengajar yang menjadi dasar bagi
tumbuhnya konsep berpikir abstrak bagi peserta didik.
Model benda nyata yang
digunakan untuk mengurangi keabstrakan materi matematika dinamakan alat peraga
pembelajaran matematika. Alat peraga matematika dapat diartikan sebagai suatu
perangkat benda yang dirancang, dibuat, dihimpun atau disusun secara sengaja
yang digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsep-konsep atau
prinsip-prinsip dalam matematika.
Contoh
benda konkrit dalam pembelajaran matematika seperti gambar dibawah ini :
Prinsip yang dikenal sebagai "prinsip multimedia" menyatakan
bahwa "orang belajar lebih dalam dari kata-kata dan gambar daripada dari
kata-kata saja" . Namun, menambahkan kata-kata ke gambar bukanlah cara
yang efektif untuk mencapai pembelajaran multimedia. Tujuannya adalah untuk
media pembelajaran dalam terang bagaimana pikiran manusia bekerja. Inilah dasar
teori pembelajaran kognitif Mayer. Teori ini mengusulkan tiga asumsi utama
ketika harus belajar dengan multimedia :
Dapat disimpulkan bahwa Ada dua saluran terpisah (pendengaran dan visual
maupun bantuan alat gerak) untuk memproses informasi Setiap saluran memiliki
kapasitas terbatas (terbatas) (mirip dengan gagasan Sweller tentang Beban
Kognitif); Oleh karena itu, media pembelajaran dapat menerima rangsangan dan
menyimpan dalam waktu yang sangat singkat, media juga dapat memproses informasi
untuk menciptakan memperbaiki mental dan memori yang sangat panjang. Sehingga media
yang digunakan dapat dilakukan oleh seorang guru untuk membuat suatu media
pembelajaran yang aktif.
bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu
multimedia pembelajaran matematika, dapat dijelaskan sebagai berikut :
Teori dual coding yang dikemukakan Allan Paivio
(Paivio, 1971, 2006) menyatakan bahwa informasi yang diterima seseorang
diproses melalui salah satu dari dua channel, yaitu channel verbal
seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image)
seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini
dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara
terpadu bersamaan (Sadoski, Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi
tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal
memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal
memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.Aktivitas berpikir dimulai ketika sistem sensory memory menerima rangsangan dari lingkungan, baik berupa rangsangan verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan representatif (representational connection) terbentuk untuk menemukan channel yang sesuai dengan rangsangan yang diterima. Dalam channel verbal, representasi dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel nonverbal, representasi dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut dapat dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian dari wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal disebut logogen sedangkan representasi informasi yang diproses melalui channel nonverbal disebut imagen (lihat Gambar).
Dalam
mengembangkan teori ini, Paivio menggunakan gagasan bahwa pembentukan citra
mental membantu dalam pembelajaran. Menurut Paivio, ada dua cara
seseorang dapat memperluas materi pembelajaran: asosiasi verbal dan citra
visual. Teori dual-coding mendalilkan bahwa informasi visual dan verbal
digunakan untuk mewakili informasi.Ada kontroversi terhadap keterbatasan teori
dual-coding. Teori dual-coding tidak memperhitungkan kemungkinan kognisi.
Pylyshyn, 1973). Keterbatasan lain dari teori dual-coding adalah valid untuk
menguji bagaimana konsep tersebut terkait (Reed, 2010). Jika hubungan antara
kata dan gambar tidak dapat terbentuk, akan jauh lebih sulit untuk mengingat
dan mengingat kata di kemudian hari. Sementara ini membatasi keefektifan teori
dual-coding, masih berlaku dalam berbagai situasi dan dapat digunakan untuk
memperbaiki memori (Reed, 2010). Informasi visual dan verbal
diproses secara berbeda dan sesuai dengan saluran yang berbeda dalam pikiran
manusia, menciptakan representasi terpisah untuk informasi yang diproses di
setiap saluran. Kode mental sesuai dengan informasi yang dapat ditindaklanjuti,
disimpan, dan diambil untuk penggunaan selanjutnya. Baik kode visual dan verbal
dapat digunakan saat mengingat informasi.
Misalnya, katakanlah seorang guru
memberikan pilihan sebuah kumpulan hobi yang mereka sukai, selanjutnya siswa mempunyai
pilihan hobi masing – masing lalu diminta untuk menghubungkan kumpulan nama
mereka dengan hobi masing – masing yang mereka sukai, sehingga mereka telah menyimpan
konsep stimulus "hobi" baik sebagai kata ”hobi” maupun sebagai seorang
yang mempunyai hobi, Saat diminta mengingat rangsangan, orang tersebut dapat
mengambilnya secara individu, atau keduanya secara simultan. Kemudian kala itu
mereka menghubungkan hobinya maka proses pembelajaran itu mereka ingat karena
kumpulan nama mereka dihubungkan melalui kumpulan hobi yang sudah dipilih guru.
diingat, hubungan dengan memasangkan hobi mereka tidak hilang dan masih dapat
diambil pada titik selanjutnya, maka dapatlah suatu konsep materi dari
matematika yang disebut dengan relasi.
Bedasarkan Sebuah penjelasan dari atas, maka dapat di ilustrasikan sebuah gambar sebagai berikut :
Oleh karena itu, kesimpulan dari
teori dual coding ini jika dikaitkan dengan
bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori
ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara
menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki
sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang
tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior
knowledge yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki
masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran
yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru
yang disampaikan, sehingga kemampuan untuk memberi kode stimulus dua cara yang
berbeda meningkatkan kesempatan mengingat item itu jika stimulus hanya
dikodekan satu arah. dual cooding ini menyatakan bahwa informasi yang
diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel,
yaitu channel verbal seperti teks dan suara, dan channel visual
(nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi.
Kedua channel ini dapat berfungsi baik secara independen, secara
paralel, atau juga secara terpadu bersamaan . Kedua channel informasi
tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal memroses
informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal memroses
informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.





menurut saudara iqbal dari tiga asumsi multimedia yang dipakai (audio,Visual, dan kinestetik) tersebut mana yang lebih efektif untuk kita terapkan di SD, SMP, dan SMA? apakah ketiganya kita pakai atau hanya salah satu?
BalasHapusMenurut saya pembelajaran yang dapat diterapkan semua jenjang pendidikan ketiga nya dapat digunakan, akan tetapi tergantung penggunaan pada media nya, contoh untuk di jenjang pendidikan sekolah dasar lebih baik digunakan media pembelajarannya menggunakan media audio, visual, misal diberikan sebuah bentuk video animasi dalam bentuk cerita yang positif, supaya siswa lebih menikmati dan fokus. selajutnya jenjang smp maupun sma lebih baik digunakan media pembelajaran bisa digunakan audio, visual, dan kinestetik, serta bisa digunakan ketiganya dari multimrdia yang dipakai untuk menunjang hasil belajar siswa, penggunaan nya tergantung sebuah pembelajaran yang bisa digunakan oleh guru.
Hapusjadi dalam membuat media kita boleh memilih salah satu atau ketiga nya kita pakai dalam membuat media pembelajaran.
HapusIzin menjawab, menurut saya penggunaan ICT, dalam pembelajaran sebaiknya harus dilakukan pada Semua jenjang pendidikan, hanya saja kuantitas nya yang harus disesuaikan pada setiap jenjang dan materi pelajaran yang akan dilaksanakan.
HapusDari semua teori itu, apakah cocok diterapkan di semua jenjang pendidikan?
BalasHapusMenurut saya dari ketiga teori asumsi sebuah media pembelajaran (Audio, Visual, dan Kinestetik bisa ) bisa digunakan di semua jenjang pendidikan, bukan hanya pendidikan saja, melainkan sebuah pertemuan rapat, kerja, seminar dll, karena ketiga teori tersebut untuk lebih memudahkan menyampaikan sebuah informasi yang penting dengan dibantu ketiga teori media pembelajaran.
HapusMengutip drcpendapat Meyers, bhwa dlm satu media hrus memiliki suatu prinsip dlm pngmbngnnya. Mnurut anda prinsip apa sja kah itu?
BalasHapusbedasarkan kutipan pendapat mayers melalui artikel Prinsip yang dikenal sebagai "prinsip multimedia" menyatakan bahwa "orang belajar lebih dalam dari kata-kata dan gambar daripada dari kata-kata saja". menambahkan kata-kata ke gambar bukanlah cara yang efektif untuk mencapai pembelajaran multimedia. Dapat disimpulkan bahwa prinsip multimedia bukan hanya dari gambar maupun kata - kata tetapi mempunyai sebuah prinsip yang digunakan dalam teori pembelajaran, harus dapat membuat siswa aktif dengan gaya belajar yang dibuat oleh guru bisa digunakan dalam bentuk audio, visual maupun kinestetik.
HapusMenambahkan lagi, untuk lebih jelas nya terdapat beberapa prinsip oleh Mayer, Menurut Mayer ada 12 prinsip desain multimedia pembelajaran yang dapat diterapkan di Pembelajaran. 12 Prinsip Merancang Multimedia Pembelajaran, yaitu :
Hapus1) Prinsip Multimedia
2) Prinsip Kesinambungan Spasial
3) Prinsip Kesinambungan Waktu
4) Prinsip Koherensi
5) Prinsip Modalitas Belajar
6) Prinsip Redudansi
7) Prinsip Personalisasi
8) Prinsip Interaktivitas
9) Prinsip Sinyal
10) Prinsip Perbedaan Individu
11) Prinsip Praktek
12) Pengandaian
Jadi, kesimpulannya adalah bahwa ke 12 prinsip itu dapat digunakan untuk mengetahui cara membuat media pembelajaran dengan baik, nah dari segi prinsip tersebut maka dapat disimpulkan bahwa media yang baik adanya proses pembelajaran yang dapat digunakan bedasarkan bentuk audio, visual maupun kinestetik.
Berdasarkan tulisan diatas disebutkan menambahkan kata-kata ke gambar bukanlah cara yang efektif untuk mencapai pembelajaran multimedia, menurut abang bagaimana cara yang efekti dalam mencapai pembelajaran multimedia?
BalasHapusUntuk gaya belajar visual atau gambar yang menambahkan kata - kata bukanlah cara yang efektif untuk mencapai pembelajaran multimedia, jadi seharusnya proses pembelajaran menggunakan multimedia diperlukan sebuah prinsip aturan cara membuat media dengan baik. untuk lebih jelas nya terdapat beberapa prinsip oleh Mayer, Menurut Mayer ada 12 prinsip desain multimedia pembelajaran yang dapat diterapkan di Pembelajaran. 12 Prinsip Merancang Multimedia Pembelajaran, yaitu :
Hapus1) Prinsip Multimedia
2) Prinsip Kesinambungan Spasial
3) Prinsip Kesinambungan Waktu
4) Prinsip Koherensi
5) Prinsip Modalitas Belajar
6) Prinsip Redudansi
7) Prinsip Personalisasi
8) Prinsip Interaktivitas
9) Prinsip Sinyal
10) Prinsip Perbedaan Individu
11) Prinsip Praktek
12) Pengandaian
Hal yang perlu diperhatikan untuk membuat pembelajaran multimedia yang efektif sebagai guru yaitu :
Yg pertama kita lihat program, kemudian kita lihat dulu sasaran kita apa situasi dan kondisi, kemudian kualtas siswanya juga perlukita perhatikan dalam menentukan media apa yg perlu kita buat.
Yang Kedua. Pilihlah gaya belajar yang dapat menunjang keaktifan siswa melalui dalam pembelajaran audio, visual dan kinestetika
ada tiga teori asumai dlm pembelajran, audio,visual,kinestetik, d antra Ketiga teori asumsi tersebut yg mana yg lebih efisien kita gunakan dalam PBM....?
BalasHapusIzin menanggapi. menurut saya, ketiga asumsi utama (audio, visual, dan kinestetik) merupakan satu kesatuan, ketika harus belajar dengan multimedia digunakan secara bersamaan dalam kegiatan PBM agar PBM berjalan lebih efektif dan efisien. artinya tidak memihak kepada salah satu asumsi tersebut. terima kasih
Hapusterima kasih aulia sudah menanggapi, untuk tambahan juga menurut saya begini semua dari ketiga asumsi, bisa menggunakan audio, visual, kinestetik maupun ketiga asumsi sekaligus, karena semua nya itu sangat untuk dilakukan dalam proses pembelajaran, yang jadi permasalahannya adalah ketergantungan guru menyiapkan dan mengoperasikan media itu yang sangat baik.
Hapusada tiga teori asumai dlm pembelajran, audio,visual,kinestetik, d antra Ketiga teori asumsi tersebut yg mana yg lebih efisien kita gunakan dalam PBM....?
BalasHapusMenurut saya tidak ada yang paling efisien, tergantung gaya belajar siswa masing-masing. Akan efisien jika media yang dibuat cocok dengan gaya belajar mereka
HapusIzin menambahkan, sejalan dengan pendapat hardi, dalam PMB penting bagi guru mengetahui apa gaya belajar siswa agar bisa membantu siswa belajar lebih baik, dan terciptanya efisiensi dalam PMB
HapusApakah untuk media pembelajaran interaktif bisa juga digunakan selain pendidikan misalnya mengadakan pertemuan untuk memudahkan presentasi dalam sebuah pertemuan, terima kasih..
BalasHapusBisa, karena untuk melakukan suatu pertemuan dari presentasi sangat bisa digunakan dari ketiga teori asumsi itu, soalnya didalam suatu presentasi membutuhkan audio dari pendapat orang, visual atau rancangan dari proyek yang kita lakukan dan kinestetika bisa digunakan dalam bentuk hubungan dari penggerak proyek yang akan dikerjakan untuk lebih memudahkan dalam suatu penyampaian yang sangat baik..
HapusIqbal brdsarkan teori di atas Channel verbal memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel. Bisa ada jelaskan mksd dri prnyataan ini. Trmksh
BalasHapusMaksud dari kutipan artikel ini bahwa kedua channel itu memang memiliki suatu perbedaan, yang pertama chanell verbal artinya hanya memproses dari suatu materi bedasarkan bukan dari teks pembelajaran, melainkan diringkas menjadi materi yang bervariatif sehingga sangat menarik untuk dibaca, sedangkan channel non verbal kebalikan dari channel verbal hanya memperoleh informasi yang berkelanjutan seperti materi tanpa variasi2 dari suatu media tersebut.
Hapusizin bertanya. bagaimana kaitan antara teori dual channel dengan teori tiga asumsi (audio, visual, dan kinestetik) ketika pembelajaran berlangsung?
BalasHapusKaitan antara teori tiga asumsi (audio, visual, dan kinestetik) serta teori dua channel itu sama dengan dua colding sangat berkaitan, karena memiliki tujuan yang sama dalam proses pembelajaran agar siswa yang mempelajari materi dari media lebih mudah dipahami, kaitannya apabila teori dual coding itu dilaksanakan dalam proses pembelajaran maka teori yang akan kita buat tergantung dari guru masing2 menggunakan gaya belajar visual, audio atau kinesteik karena dual coding adalah proses pembelajaran jika dikaitkan dengan bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge). sehingga teori teori tiga asumsi dapat mendukung proses pembuatan media pembelajaran yang efektif.
HapusMenurut iqbal, karakteristik media belajar berbasis ICT itu seperti apa ya?
BalasHapusMenurut saya, adapun karakteristik media belajar berbasis ICT dapat perlu diperhatikkan terdapat tiga karakteristiknya yaitu audio, visual dan kinestetik..
Hapusizin bertanya, mohon solusinya jika pada suatu sekolah sarana dan prasarana tidak mendukung, kemudian gurunya tidak ada basic untuk ICT, kemudian siswanya tidak ada respon untuk penggunaan ICT. bagaimana solusinya agar pembelajaran bisa menggunakan ICT dan mencapai pembelajaran yang menyenangkan.
BalasHapusJika sarana dan prasarana tidak mendukung kemudian gurunya tidak bisa membuat media , tentu saja ini menjadi faktor kendala yang harus cepat diselesaikan, untuk solusi nya, pihak sekolah harus memfasilitasi kebutuhan guru dengan alat media, listrik untuk memudahkan pengaplikasian, serta apabila guru tidak ada basic, guru harus lebih banyak belajar bagaimana cara membuat media pembelajaran yang menyenangkan agar siswa mendapatkan respon yang positif, apabila siswa masih juga tidak ada repon dalam penggunaan ICT maka itu bukan terjadi kesalahan guru maupun sekolah, ha ini menyebabkan siswa bisa saja lambat berpikir dari suatu materi teresebut.
HapusMedia pembelajaran dibuat untuk memaksimalkan dual coding dari siswa, nah jika kita sudah mengajr dengan media tetapi masih saa ada siswa yg tidak mngerti, solusi apakah yang bisa kita lakukan untuk mengatasai masalah tsb?
BalasHapushal yang perlu diperhatikan guru apabila kendalanya masih saja siswa tidak mengerti terhadap penggunaan pembelajaran ICT, guru harus bertindak cepat dengan melihat situasi siswa dan guru harus membelajarkannya secara pendekatan terhadap siswa bagian mana materi yang sulit bagi mereka.
Hapusizin bertanya,, Apakah kinenstetik hanya bisa diterapkan pada benda konkret saja? tidak bisakah dalam suatu ICT atau powerpoint kita bisa mengajak anak dengan tipe belajar kinenstetik untuk ikut tertarik?
BalasHapustentu saja bisa guru menerapkan kinestetik didalam unsur media pembelajaran seperti power point, dengan cara diberikan suatu gambaran yang menarik yang dapat digerakkan sebagai contoh konkret melalui media tersebut dan dapat dipahami siswa dari tujuan materi tersebut maka terdapat lah unsur gaya belajar kinestetik, misalnya materi relasi dan fungsi, serta geometri.
Hapuskenapa harus dual coding? kenapa tidak 3, 4 atau 5?
BalasHapusMenarik pertanyaannya bg..kenapa gx panca koding skalian ya bg? Hehe..izin menanggapi..
Hapusjd bgini bg..kmampuan manusia dlam menerima informasi itu terbatas bg..maksimal hnya mampu menrima mlalui 2 channel saja..tdk bsa lebih..klau lebih maka akan overload bg..kira" sperti itu
dual coding merupakan sebuah informasi yang diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel, yaitu channel verbal seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu bersamaan. artinya dua colding diperuntukkan untuk dapat mengambil informasinya melalui saluran indra pendengar dan melihat, Nah kenapa tidak lebih dari 2, karena apabila yang diterima itu lebih dari 2 maka siswa akan kebingungan dan tidak berfokus pada pelajaran sehingga pembelajaran tersebut tidak efisien..
HapusMenurut iqbal, dijenjang pendidikan apakah seorang harus diperkenalkan dengan ict?
BalasHapusmenurut saya, proses pembelajaran menggunakan ict dapat diperkenalkan dalam satuan jenjang pendidikan sekolah dasar dikelas 5 - 6, karena pendidikan dimulai dari sejak usia kelas 5 - 6 kita memberikan informasi pembelajarannya melalui berbentuk video pembelajaran animasi yang positif, seperti hanya mata pelajaran agama dan kewarganegaaraan, karena mata pelajaran itu dapat diperkenalkan berkaitan dengan sikap, jujur, dan tingkah laku yang baik, untuk pelajaran matematika dapat diperkenalkan di jenjang pendidikan smp.
HapusDimanakah posisi gaya belajar kinestetik dalam asumsi dual coding?
BalasHapusposisi yang berkaitan dengan gaya belajar kinestetik (gerak) dan asumsi dual coding dapat dilihat dari sebuah alat informasi yang diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel, yaitu channel verbal seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu bersamaan. oleh karena itu kinestetik dan dual coding diberikan media pembelajaran yang interaktif dalam media yang dapat digerakkan dalam proses penyelesaian dari sebuah materi yang dipelajari contoh materinya adalah bangun ruang..
Hapusmenurut abang, media pembelajaran dengan menggunakan aplikasi lebih efektifkan?
BalasHapusdan kalau lebih efektif sebaiknya menggunakan aplikasi apa?
izin menanggapi, menurut saya tentu lebih efektif, dan mengenai menggunakan aplikasi apa, tergantung kebutuhan dan pemahaman guru, karena beda aplikasi, beda pula fungsinya, dan ada banyak jenis aplikasi yang beda nama tapi berfungsi sama, tinggal bagaimana pemahaman sang pembuat media tadi agar media tersebut bisa mewakili apa yang ingin disampaikan. terimakasih
Hapus